Pages - Menu

Showing posts with label Belajar. Show all posts
Showing posts with label Belajar. Show all posts

Wednesday, October 5, 2011

Teknik Dasar Bermain Beatbox

Tiga dasar suara
Dalam beatboxing manusia, alur kebanyakan dibuat dengan menggunakan tiga suara dasar. The kick drum, snare drum dan hi-hat.

Tentang suara
Dalam beatboxing manusia, beberapa suara dinamai instrumen nyata (misalnya klasik kick drum), beberapa dinamai instrumen elektronik (misalnya 808 Snare Drum) dan lain-lain diberi nama setelah cara mereka suara (misalnya Hollow Snare). Namun, tiga kategori dasar suara - kick, snare dan hi-hat diberi nama setelah tiga bagian dasar dari drum kit.

Kick Drum adalah putaran drum yang besar drumer hits dengan menggunakan pedal kaki. Kami menyebutnya tendangan drum ketimbang bass drum untuk menghentikan kami mendapatkan bingung dengan bass yang umumnya berarti suara bass seperti gitar bass.

Snare Drum adalah drum yang disebut kabel bawah jerat. Kabel membantu menciptakan mainan tajam bising ketika drum dipukul dengan tongkat.

Hi hat adalah dua cymbal bahwa bentrokan bersama ketika dibuat untuk melakukannya dengan kaki pedal. Mereka bisa terpisah (terbuka) atau bersama-sama (tertutup). Mereka mungkin dipukul dengan tongkat di tempat terbuka atau tertutup atau tertutup sebagian posisi.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

KICK DRUM (b)
Suara ini dibentuk dari huruf B. Seandainya kita lafalin di bahasa Indonesia, maka yang kedengeran adalah "BE". OK, sekarang coba lo sebut huruf B itu tanpa huruf E nya. Sambil nyebut huruf B itu, rapatkan otot bibir dan dorong dengan udara dari dalam mulut.

Untuk ngebantu di awal belajar, coba sebut "Buh" atau "Buf" dengan huruf U sesingkat mungkin atau hampir gak kedengaran.


-----------


HI HAT (t/ts)

CLOSED HI HAT (t)
Kalo lo termasuk cukup fasih dalam bahasa inggris, maka suara ini dibentuk dari huruf T di mana mereka bakal ngelafalin seperti "TSI". Kalo di bahasa Indonesia sih lebih dekat ke bunyi huruf C dan lafalnya seperti "CI". Nah, ini adalah bunyi dari hi hat dalam keadaan tertutup.

OPENED HI HAT (ts)
Untuk suara hi hat dalam keadaan terbuka, lafalnya "TS". Jadi setelah bunyi awal T keluar, segera sambung dengan bunyi S.


------------


SNARE DRUM (pf)
Suara ini dibentuk dari huruf P. Untuk yang basic, biasanya setelah huruf P berbunyi, buru2 kita sambung ke bunyi F. Jadinya "Pf" atau "Puff" dengan bunyi huruf U sesingkat mungkin. Bayangin ada benda halus yang nempel di bibir lo, misalnya tembakau atau sobekan kemasan snack, terus lo berusaha untuk ngebuang benda tadi dengan hembusan udara dari mulut lo. Tapi, hembusan udaranya dibuat sesingkat mungkin.

SNARE K (k)
Untuk teknik ini, bibir harus dibuat serapat mungkin supaya tekanan udara di dalam mulut lo bisa terbangun. Teknik lain yang umum digunain untuk suara snare ini adalah dengan bunyi huruf K, yang kalo dilafalin jadinya "Keh" atau "Kch". Mau pake yang mana, terserah.

INWARD K SNARE (k)
Sama kayak inward k snare cuma bedanya kalo yang ini di isep bukan di tiup, gampangnya lo ambil nafas dari kedua sisi sebelah gigi (tau orang sakit gigi gak? kurang lebih kayak gitu). tapi dibuat menjadi mendadak kalo dah bisa kedengerannya kaya ngomong "KEH" tapi di isep.

OK, itu tadi dasar2nya. Semuanya masih dengan teknik expelled air atau hembusan angin dari paru2 atau mulut. Sekarang lo bisa coba bikin beat simple dari bunyi2an basic tadi. angep aja lo lagi maen gitar.

ni pattern/pola -nya buat yg dasar

- b-t-pf- t- b- t-

-b-ts-k-ts-b-b-k-b-ts-

Inget: b : kick drum
t : closed hi hat
ts : opened hi hat
pf : snare drum
k : inward k snare

diulang-ulang sampe lancar dulu..
santai aja ngak usah cepet-cepet..

Referensi: www.humanbeatbox.com, forum diskusi grup indobeatbox, dll.

Asal Usul " Beatbox "

Sedikit tentang asal usul BEATBOX

Beatbox sering terdokumentasikan, yg umum kita ketahui, berakar di awal modern hiphop, di ujung2 jalan seperti Chicago, Bronx, dan LA, dan ini umumnya benar. Namun, vokal perkusi- asal muasal beatboxing muncul - telah menjadi bagian dari musik dan urban scene lebih lama dari yg kita kira. Sebagai bagian dari "the new school of beatboxing" dan hip-hop, dari sekitar tahun 1998 hingga kini, sangatlah penting "New School" ini mengenal sejarahnya, dan bagaimana sub-kultur ini bisa ada. Melalui penelitian yg sulit, Saya akan mencoba menjelaskan pembaca dengan singkat "the true history of beatboxing".

Pertama kita akan menjelajah waktu, lebih dari 7 dekade ke belakang, di era-nya swing, jazz dan "barbershop music"(musik group vokal a-capella). Telah terdokumentasi bahwa para musisi Jazz adalah grup musisi pertama yg menggunakan suaranya,dan tentu saja, keseluruhan nada vokalnya untuk mengimitasi instruments. Ketika Bebop lahir di tahun 30an, sebagai reaksi dari sebagian grup swing dan kurangnya improvisasi, telah menjadi suatu norma untuk mendengarkan para penyanyi jazz dan blues melengking, mengerang atau mendengkurkan bunyi-bunyian yg kurang umum di dengar oleh telinga manusia sebagai kata-kata. "Scatting" digunakan sebagai improvisasi harmoni dan kemampuan vokal para penyanyi jazz baik untuk solo atau pun instumentals. Ini adalah pandangan mainstream pertama yang kemudian akan menjadi vokal perkusi, dan setelah itu beatboxing. Para penyanyi akan menyanyikan kata-kata buatan seperti "doot", "wamp", "bapadoo", dan sebagainya, efektifnya yaitu menirukan suara instruments yg sangat umum di musik ini, yaitu saxophones dan trompet. Namun bagaimanapun, akar-akar dari imitasi bunyi instruments oleh suara manusia dimulai beberapa tahun di awal.
==========================================

Awal mula..
Berbalik ke waktu lampau, kita menemukan di Selatan Perancis antara tahun 1200 dan 1300, "the Troubadours" (para musisi-penyajak). Group ini berkeliling wilayah Perancis yang mana ingin berkelana jalanan bernyanyi sendiri atau pun ditemani sebuah "lute" instrument semacam kecapi yg juga cikal bakal gitar akustik modern. Musik mereka berupaya untuk tampil beda dan menampilkan lirik2 yg santun atau tema2 yg religius. Di akhir tahun 1400 dan 1500an, para group akan bernyanyi bersama2, mirip musik barbershop, pengharmonisasian menjadi satu suara. Untuk memperluas music mereka,mereka menukar nada pendek yg tajam, responsif dalam melodi, membuatnya terdengar seperti seluruh band bermain bersamanya. Bahkan, Orang2 Gipsy Perancis ini adalah pertanda awalnya vokal perkusi dalam sejarah.

Ketika Pertengahan menjadi Baroque, Baroque menjadi Romantik, Romantik menjadi Klasikal, "human Percussion" menghilang sementara waktu. Ketika musik berayun ke Bach dan Beethoven dengan "oratorios" dan Simphoni meliputi lusinan biola dan sejenisnya, penggunaan suara manusia melenyap/tidak digunakan, selain hanya untuk satu tujuan, bernyanyi. Namun, banyak para komposer baru, seperti Medtner dan Rachmaninov menggunakan bunyi vokal yg tak mengandung syair dalam komposisi klasiknya. Contohnya, komposisi Rachmaninov untuk suara dan piano disebut "vokalise", tertulis pada tahun 1912, berisi melodi murni yang menguak kelembutan harmonisasi vokal yg tanpa syair.
=============

Dari Afrika ke Amerika
Musik ritualis Afrika secara tradisional menggunakan bunyi-bunyian tubuh untuk mempertahankan rhythm, seperti bertepuk tangan dan berketuk kaki. Menarik-dan-menghembuskan nafas dengan keras disebut "over breathing" juga digunakan sebagai suatu "two-beat rhythm" dan untuk membuat keadaan tidak sadar pada penampilnya. Patern vokal perkusi juga digunakan seperti, "hup, hup, hup, hup" dan "Ch Ka Ch Ch". Sekarang ini, musik Afrika barat masih menggunakan teknik seperti membuat suara yg serak-kasar atau kualitas dengungan secara intens, sambil kejang2 dan menunduk2.

Pada abad 17, para budak Afrika dibawa ke perkebunan di Jamaika dan Amerika, yang kemudian musik Afrika melebur dengan rakyat Eropa dan musik dari band-band brass untuk menciptakan suatu bentuk musik baru- yang disebut jazz dan blues.
======================


Barbershop
Pada akhir tahun 1880an, para group kulit hitam (biasanya kuartet) menyanyikan a-capella, yaitu, hanya menggunakan harmonisasi suara mereka sendiri untuk menciptakan musik. Mereka akan menahan lama, nada rendah, yg kita dengar sebagai suara bass dalam beatbox modern. Vokal Perkusi digunakan oleh para group kuartet ini untuk membantu musik mereka mengatur tempo, seperti klik pada lidah dan menarik nafas dalam-dalam hingga nyaring bersuara. Ya,beratus-ratus tahun yang lalu sebelum Kenny Mohammed, musisi barbershop kulit hitam telah lebih dulu menguasai "the inward snares"(teknik penciptaan suara snare dengan menarik nafas). Meskipun vokal perkusi adalah latar belakang dari jenis musik ini, tentu saja hal ini juga menciptakan pengaruh akan timbulnya scatting dan dengungan bass pada alunan jazz, blues, dan musik swing yg berjarak beberapa tahun kemudian.
======================




Blues and Vokal Perkusi
Ketika Blues dibawa oleh para budak kulit hitam, yg menceritakan penderitaan kehidupan mereka,biasanya tidak ada instruments yg digunakan. Para musisi akan berimprovisasi hanya dengan menggunakan tubuhnya ataupun suaranya. Tepukan dan bunyi ceklekan (klik) menjadi drumnya, dan dengungan bernada rendah menjadi double bass-nya; 2 tulang punggungnya blues dan musik jazz. Satu orang akan berdengung, satu orang lagi akan bertepuk, klik dan memukul suatu barang sebagai drum-nya, dan seorang akan bernyanyi. Hal ini yg kemudian akan menyebabkan peng-imitasian banyak suara, seperti 'shhchh' pada soft-snare dan 'tssa' pada hi-hat yg dimainkan dengan brushes.Group-group Blues telah menemukan cara untuk membuat musik mereka hanya dengan menggunakan suara mereka sendiri. Ketika Blues menjadi lebih mainstream, scatting dan dengungan bass menjadi populer. Penyanyi bernada tinggi akan melengkinkan suaranya, menggabungkan nada, mengambil alih suara trompet ketika solo. Dengan segera, bentuk vokal perkusi ini menjadi stample dari budaya urban, yaitu, budaya jalanan. Seniman-seniman miskin akan menguasai jalanan, atau nongkrong di sudutan jalan, menirukan suara trompet dan saxophones di luar gedung pertunjukan jazz.
=========================


Kini
Kini, beatboxing dan vokal perkusi sangatlah populer. Hanya cukup mendengarkan referensi sebuah album seorang Autralia, Joel Turner, yang menggunakan beatbox sebagai drum di kesulurahn albumnya. Sejak itu, Joel mendeklamasikan kemenangan akan albumnya, dan kontrak multimiliun dollar dengan label rekaman dan peng-ekspose-an di mainstream. Formasi group seperti The Beatbox Alliance, yang memiliki backingan major corporate, membuat kita menyadari bahwa sekarang beatboxing adalah suatu bagian dari komunitas hiphop. Pada tahun 2000, Rahzel membuat beatboxing menjadi lebih dikenal di mainstream dengan membawakan sebuah lagu Alliyah "If Your Mother Only Knew". Sejak itu, Rahzel diberi predikat sebagai orang pertama yang memodifikasi suatu seni bernyanyi dan beatboxing yang dilakukan secara bersamaan, sebuah jargon yg akhirnya menjadi stample komunitas beatbox.

Friday, June 3, 2011

Slow Sync Flash


One camera function that can be a lot of fun to play with (and that can get you some interesting results) is slow sync flash.

Low Light Photography Options

When shooting with a subject in low light situations you generally have two options; either to shoot with a flash or to shoot with a slow shutter speed.
1. Flash – When shooting in low light with a flash in auto mode your camera will choose a relatively fast shutter speed. This means that your subject will be well lit and that if it is moving it will be frozen and as a result will be sharp. The problem with this is that it can also leave your subject lit up too brightly and can leave it’s background looking very dark as there is not enough time for the camera to collect any ambient light.
2. Slow Shutter Speed – The other option is to turn your flash off and shoot with a longer shutter speed in order to collect enough available light from the image to get a well exposed shot. This can be an effective technique if you’re shooting landscape or environmental shots where everything is nice and still – however if you’re shooting a moving subject it means you’ll get motion blur which could ruin your shot.
Both of the above options are legitimate technique but both have their weaknesses. Another options to consider is slow sync flash.

What is Slow Sync Flash?

Slow Sync Flash is a function found on many cameras that tells your camera to shoot with both a longer shutter speed as well as firing the flash. This means you get the best of both worlds above and can both get a relatively sharp shot of your main subject as well as get some ambient light from the background and foreground.
Some cameras allow you to access slow sync flash manually and set exposure length and flash strength but on many compact cameras there is a little less control given and it’s presented as an automatic shooting mode, often called ‘night mode’ or even ‘party mode’ where the camera selects the slower shutter speed and flash strength for you.

Rear and Front Curtain Sync

If your camera gives you some manual control when it comes to slow sync flash you might find yourself presented with two options called ‘rear curtain sync’ and ‘front curtain sync’.
These two modes sound a little technical but to put it most simply they are the way in which you choose when to fire your flash during the longer exposure.
Rear Curtain Sync – this tells your camera to fire the flash at the end of the exposure. ie when you press the shutter your lens opens up and starts collecting light and just before it closes the flash will fire to light up and freeze your main subject (see the card shot to the left for an example where you’ll see the card trail ending in a nice crisp shot of the card).
Front Curtain Sync – this tells your camera to fire the flash at the start of the exposure. ie when you press the shutter, the flash will fire immediately and the shutter will remain open afterwards capturing ambient light.
You might not think there’s much difference between these modes but when you’re photographing a moving subject it can have a real impact. You’ll find many action/sports photographers will use Rear Curtain Sync when shooting with a panning technique.

Tripod or Handheld?

When using either slow synch in either mode (or in the automatic ‘night mode’ you will want to consider whether or not to use a tripod. Traditionally when shooting with longer shutter speeds it is accepted that a tripod is essential in order to stop any camera movement. Even the steadiest of hands will not be able to stop a camera moving over even a 1 or 2 second exposure. So if you want to eliminate blur from your cameras movement definitely use a tripod (and consider a shutter release cable).
However in some circumstances hand holding your camera while using slow sync flash can lead to some wonderful effects. For example if you’re at a wedding or party and are out on the dance floor the results can be great at capturing the mood of a night with those you’re photographing largely frozen by the flash but the lights on the dance floor blurred from you moving your camera during the shot.
Of course hand held techniques won’t work with every situation so experiment with both methods at different shutter speeds and by using both rear and front curtain sync and find the best methods for your particular situation.
Post your Slow Sync Flash Shots over at our forum assignment on the topic.. Also check out these 13 great Slow Sync Flash images.
This post was previously posted in January 2007 but today has been reposted with updates


Read more: http://www.digital-photography-school.com/slow-sync-flash#ixzz1OHo2JmuD

Pendidikan Bermutu di tengah Pentas Budaya Instan

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.
Zaman sudah berubah. Semua orang maunya serba cepat. Jadinya, cenderung mengabaikan proses tapi ingin segera mendapat hasil. Apalagi di negara dengan etos kerja rendah seperti Indonesia. Akibatnya, budaya instan mulai masuk ke setiap kehidupan kita. Hidup di zaman modern seperti sekarang ini segala sesuatu dapat kita dapatkan dengan mudah, praktis dan cepat. Kemajuan teknologi telah memanjakan kita. Mau ngobrol dengan rekan atau saudara yang bermukim di belahan dunia lain, tinggal angkat telepon atau buka internet. Ingin belanja atau makan di restoran tapi malas keluar, tinggal pesan lewat telepon atau beli lewat situs. Mau transaksi —transfer uang, bayar listrik, kartu kredit, beli pulsa— tidak perlu susah-susah ke bank atau ATM. Semua bisa dilakukan lewat handphone. Bagi cewek-cewek yang ingin rambut panjang tidak perlu harus menunggu sampai berbulan-bulan. Cukup tunggu ½ jam saja dengan teknik hair extension, rambut bisa panjang sesuai keinginan.
Maklum, orang makin sibuk. Malas direpotkan dengan hal-hal ribet. Maunya serba instan. Salahkah itu?, selama masih mengikuti hukum alam, serba instan itu sah-sah saja. “Hidup yang baik dan sukses adalah hidup yang sesuai dengan proses alam”. Sampai level tertentu teknologi bisa kita pakai untuk mempercepat hal-hal yang bisa dipercepat sesuai hukum alam. Kemajuan teknologi dan tuntutan zaman, memungkinkan kita mendapatkan sesuatu serba cepat. Tetapi tidak asal cepat. Kualitas harus tetap terjaga. “Padi 100 hari baru panen itu bagus”. Tapi ingat itu ada yang bisa dipercepat. Mestinya, hasilnya harus lebih baik. Jadi, cepat, baik dan bermutu harus berlangsung bersama.
Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Mendapatkan sesuatu dengan mudah membuat orang enggan bersusah payah. Tak mau melewati proses. Alias malas. Yang penting cepat !. Bermutu atau tidak, itu urusan nanti. Berorientasi hanya pada hasil. Proses tidak penting. Parahnya, “virus” itu sudah menyebar ke berbagai aspek kehidupan. Ingin sukses dengan cara instan. Jadilah, banyak orang korupsi, punya gelar palsu, beli skripsi, ijazah aspal, asal lulus, cepat kaya lewat penggandaan uang dan lain sebagainya. Kalau memang berat, membosankan dan ketinggalan zaman mengapa kita harus bermutu? Kalau ada cara cepat yang memberi hasil, mengapa tidak dicoba?. Lebih lanjut, sekarang ini sudah terjadi pergeseran nilai di masyarakat. Orang makin individualis dan cenderung melecehkan hak orang lain. Untuk mengejar kesuksesannya, orang tak ragu-ragu mengorbankan orang lain.

Pendidikan Cenderung Dibisniskan

Munculnya berbagai cara yang mengarah pada pelanggaran etika akademik yang dilakukan perguruan tinggi kita untuk memenangkan persaingan, menunjukkan bahwa pendidikan kini cenderung dipakai sebagai ajang bisnis. Pola promosi yang memberikan kemudahan dan iming-iming hadiah merupakan suatu gambaran bahwa perguruan tinggi tersebut tidak ada inovasi dalam hal kualitas pendidikan. Kecenderungan tersebut akan menghancurkan dunia pendidikan, karena akhirnya masyarakat bukan kuliah untuk meningkatkan kualitas diri, melainkan hanya mengejar gelar untuk prestise. Kondisi pendidikan tinggi saat ini cukup memprihatinkan. Ada PTS yang mengabaikan proses pendidikan. Bahkan ada PTS yang hanya menjadi mesin pencetak uang, bukan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hal Ini yang membuat persaingan menjadi semakin tidak sehat.
Produk lulusan perguruan tinggi yang proses pendidikannya asal-asalan dan bahkan akal-akalan, juga cenderung menghalalkan segala cara untuk merekrut calon mahasiswa sebanyak-banyaknya, dengan promosi yang terkadang menjebak dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan. Apakah ini gambaran pendidikan berkualitas ?. Bahkan ada beberapa PTS di Jakarta yang memainkan range nilai untuk meluluskan mahasiswanya, karena mereka takut, ketika selesai ujian akhir (UTS/UAS) banyak mahasiswanya yang tidak lulus alias IP/IPK nasakom. Sehingga mereka lulus dengan angka pas-pasan yang sebenarnya mahasiswa tersebut tidak lulus. Dalam hal ini semua pihak harus melakukan introspeksi untuk bisa memberi pelayanan pendidikan yang berkualitas. Kopertis, harus bersikap tegas menindak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang melanggar dan mensosialisasikan aturan yang tak boleh dilanggar oleh PTS. Pengelola perguruan tinggi juga harus menghentikan semua langkah yang melanggar aturan. Kunci pengawasan itu ada secara bertahap di tangan Ketua Program Studi, Direktur, Dekan, Rektor dan Ketua Yayasan.

Tantangan Lulusan Sarjana di Era Informasi

Ketika para sarjana memadati berbagai arena bursa kerja untuk menawarkan ilmu dan ijazah mereka, iklan-iklan penerimaan mahasiswa baru juga nyaris memenuhi halaman-halaman surat kabar. Dua fenomena tersebut ironis. Promosi Perguruan Tinggi untuk menjaring calon mahasiswa sama "gencarnya" dengan peningkatan pengangguran lulusan. Di sisi lain, perlu diajukan pertanyaan, kualifikasi apakah sebenarnya yang disyaratkan oleh para pencari tenaga kerja lulusan sarjana Perguruan Tinggi ini ?
Jawaban yang diperoleh para peneliti umumnya adalah campuran kualitas personal dan prestasi akademik. Tetapi pencari tenaga kerja tidak pernah mengonkretkan, misalnya, seberapa besar spesialisasi mereka mengharapkan suatu program studi di Perguruan Tinggi. Kualifikasi seperti memiliki kemampuan numerik, problem-solving dan komunikatif sering merupakan prediksi para pengelola Perguruan Tinggi daripada pernyataan eksplisit para pencari tenaga kerja. Hasil survei menunjukkan perubahan keinginan para pencari tenaga kerja tersebut adalah dalam hal kualifikasi lulusan Perguruan Tinggi yang mereka syaratkan.
Tidak setiap persyaratan kualifikasi yang dimuat di iklan lowongan kerja sama penting nilainya bagi para pencari tenaga kerja. Dalam prakteknya, kualifikasi yang dinyatakan sebagai "paling dicari" oleh para pencari tenaga kerja juga tidak selalu menjadi kualifikasi yang "paling menentukan" diterima atau tidaknya seorang lulusan sarjana dalam suatu pekerjaan.
Yang menarik, tiga kualifikasi kategori kompetensi personal, yaitu kejujuran, tanggung jawab, dan inisiatif, menjadi kualifikasi yang paling penting, paling dicari, dan paling menentukan dalam proses rekrutmen. Kompetensi interpersonal, seperti mampu bekerja sama dan fleksibel, dipandang paling dicari dan paling menentukan. Namun, meskipun sering dicantumkan di dalam iklan lowongan kerja, indeks prestasi kumulatif (IPK) sebagai salah satu indikator keunggulan akademik tidak termasuk yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan.
Di sisi lain, reputasi institusi Pendidikan Tinggi yang antara lain diukur dengan status akreditasi program studi sama sekali tidak termasuk dalam daftar kualifikasi yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan proses rekrutmen lulusan sarjana oleh para pencari tenaga kerja.
Ada kecenderungan para pencari tenaga kerja "mengabaikan" bidang studi lulusan sarjana Dalam sebuah wawancara, seorang kepala HRD sebuah bank di Cirebon menegaskan, kesesuaian kualitas personal dengan sifat-sifat suatu bidang pekerjaan lebih menentukan diterima atau tidaknya seorang lulusan Perguruan Tinggi. Misalnya, posisi sebagai kasir bank menuntut kecepatan, kecekatan, dan ketepatan. Maka, lulusan sarnaja dengan kualitas ini punya peluang besar untuk diterima meskipun latar belakang bidang pendidikannya tidak sesuai. Kepala HRD itu mengatakan, "Saya pernah menerima Sarjana Pertanian dari Bogor sebagai kasir di bank kami dan menolak Sarjana Ekonomi manajemen dari Bandung yang IPK-nya sangat bagus."
Kualifikasi-kualifikasi yang disyaratkan dunia kerja tersebut penting diperhatikan oleh pengelola Perguruan Tinggi untuk mengatasi tidak nyambung-nya antara Perguruan Tinggi dengan dunia kerja dan pengangguran lulusan. Jika pembenahan sistem seleksi mahasiswa baru dimaksudkan untuk menyaring mahasiswa sesuai kompetensi dasarnya, perhatian pada kualifikasi yang dituntut pasar kerja dimaksudkan sebagai patokan proses pengolahan kompetensi dasar tersebut. Untuk itu semua, kerja sama Perguruan Tinggi dan dunia kerja adalah perlu.
Sumber : LPMP DKI 

Slow Shutter Speed Photography

misii gaan, newbie numpang shariing 

ane mau sharing tentang slow shutter speed photography gan,
slow shutter speed photography akan menghasilkan yang unik (khusus pada malam hari). seperti yang pernah agan2 lihat sebuah foto lalulintas kendaraan di malam hari, namun yang tampak hanya cahaya lampu rem/lampu mobil tersebut. untuk melakukan teknik ini cukup mudah, yang agan perlukan adalah 

1.tripod


2. kamera (disarankan DSLR)


Setelah agan2 mempunyai kedua barang di atas, ikuti lah langkah2 selanjutnya:

1. Pasang Tripod agan, tegak kan sesuai dengan ketinggian/angle yang agan inginkan
2. Pasangkan kamera agan ke tripod agan.
3. Pada kamera agan, atur lah ISO menjadi 100/200 atau serendah mungkin di bawah 400.
4, Pada kamera agan lagi, aturlah diafragma/bukaan/F pada kamera agan. usahakan diatas 11. (kalau ane untuk slowspeed malam pakai F16)
5. Pada kamera agan lagi, aturlah pemotretan nya dengan mode timing 10 detik(ini digunakan agar tidak shaking, jika punya remote shutter, tidak perlu di atur timing)
6. Pada kamera agan lagi, atur lah shutter agan sesuai dengan metring di view finder ( kalau pakai remote shutter stel aja ke BULB)
7. Tekan shutter agan

ini beberapa hasil jpretan ane gan 







http://4.bp.blogspot.com/_UAlGcYX05Y...s320/sfbfn.jpg

sekian dari ane gan, semoga bermanfaat, CMIIW

Sumber : 
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8092720

Sunday, May 22, 2011

Sepuluh Cara Berhemat

Ada sepuluh ide untuk melakukan penghematan dengan cara sederhana, yang mudah dilakukan tanpa harus menjadi pelit.
1. Bawa air minum
Membeli air minum dalam kemasan tak hanya menambah sampah plastik tapi juga memboroskan uang. Bayangkan, jika dalam sehari Anda membeli sebotol air minum dengan harga Rp 3000, dalam sebulan Anda menghabiskan Rp 90 ribu. Sebagai gantinya, belilah botol minum sendiri — yang bisa diisi ulang.
2. Membawa daftar belanjaan
Buatlah daftar belanjaan sebelum pergi berbelanja ke toko. Pastikan daftar Anda hanya berisikan barang-barang yang memang Anda butuhkan. Hanya barang yang masuk daftar yang boleh dibeli, lainnya tidak.
3. Berjalan kaki lebih sering
Cobalah jalan kaki jika tujuan Anda cukup dekat. Kurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dan gunakan kendaraan umum. Anda juga bisa mencoba memberi tumpangan dengan teman yang searah. Informasinya bisa didapat melalui beberapa komunitas yang  berbagi kendaraan seperti nebeng
4. Manfaatkan perpustakaan
Anda tidak perlu senantiasa membeli buku baru. Kunjungilah perpustakaan untuk mencari buku yang diperlukan.
5. Kurangi makan di luar
Usahakan memasak dan membawa bekal makan siang untuk di kantor. Memasak akan menghemat banyak biaya dibandingkan selalu makan di luar.
6.Jauhi ATM asing
Menarik uang dari bank selain bank Anda bisa menyebabkan pemotongan uang dari rekening. Jumlahnya bervariasi mulai dari Rp 3000 hingga Rp 20 ribu. Nilai ini nampaknya kecil, tapi bayangkan jumlah totalnya jika sering dilakukan.

7. Membuat kopi sendiri
Daripada membeli kopi mahal di kafe, lebih baik minum kopi buatan sendiri. Sedikit-sedikit mengirit lama-lama jadi bukit.
8. Kurangi ke mal
Jalan-jalan ke mal bisa mendatangkan banyak godaan untuk membeli barang secara impulsif. Maka itu, lebih baik habiskan waktu libur dengan piknik ke taman atau museum.
9. Manfaatkan kartu diskon
Beberapa toko menawarkan diskon bagi pelanggan yang punya kartu anggota. Manfaatkan hal ini dengan bijak. Awas, ini berbeda dengan membeli barang diskon yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
10. Daur ulang
Kreatiflah: ada banyak ide yang bisa dilakukan untuk mendaur ulang barang yang tak digunakan lagi. Misalnya, memadukan pakaian lama dengan baju lain sehingga menjadi lebih menarik.
Anda punya ide lain?